Jumat, 28 Juni 2013 - 11:03:11 WIB



TAKTAKAN, BP - Perpustakaan bukan hanya menjadi tempat membaca dan meminjam buku saja, tapi harus menjadi pusat kegiatan masyarakat. Untuk itu perpustakaan harus didukung sumberdaya manusia dan teknologi informasi.

Demikian dikatakan Capasity Bulding Officer Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI), Akhmad Mukhsin saat acara pelatihan advokasi dan mobilisasi social di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Permadani, Kamis (27/6).

Menurut Mukhsin, kegiatan di perpustakaan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Selain memfasilitasi masyarakat dalam memperoleh pengetahuan, perpustakaan harus menjadi tempat praktek dari ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari hasil membaca.

“Ilmu tentang fotografi bisa langsung ditindaklanjuti dengan pelatihan, kalau bisa oleh si pengarang bukunya. Begitu pula dengan ilmu memasak bagi ibu-ibu, atau ilmu yang berkaitan dengan keterampilan. Sehingga perpustakaan menjadi pusat kegiatan masyarakat,” kata Mukhsin.

Dikatakan Mukhsin, perpustakaan juga bisa merambah dunia entrepreneur. Menurutnya, di Kota Serang banyak produk unggulan yang belum dipasarkan dengan baik. Selain diberitahu terkait cara membuat produknya lewat buku, alangkah baiknya pengunjung perpustakaan juga diberi bekal pengemasan dan pemasarannya oleh orang yang berkompeten.

“Di sini ada produk kue gipang dari singkong, yang pengembangannya sangat potensial. CCFI juga konsen memperhatikan remaja, kaum perempuan dan usaha kecil menengah,” ujar Mukhsin.

Diungkapkan Mukhsin, ada beberapa kegiatan yang dilakukan CCFI dalam membantu perpustakaan di Indonesia. Diantaranya membantu menyediakan perangkat komputer, internet dan penguatan kapasitas petugas perpustakaan. Bahkan perpustakaan juga bisa menjadi salah satu tempat rekreasi remaja.

“Kerjasama ini sudah dimulai 2012 dan akan berlanjut sampai 2014,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hal pertama yang sudah dilakukan adalah penyusunan Rencana Strategis (Renstra) informasi teknologi (IT), marketing, pelayanan prima dan advokasi. Selain itu akan dilakukan monitoring, evaluasi dan dampaknya dari kegiatan yang sudah dilakukan.

“Intinya untuk menarik orang datang ke perpustakaan, yang akhirnya dapat mempengaruhi pemegang kebijakan untuk memperhatikan perpustakaan,” ucapnya.

Penanggungjawab TBM Permadani, Erna Yuliawati mengungkapkan, sejak bekerjasama dengan CCFI, ada pengaruh signifikan dalam pengelolaan perpustakaan. Menurutnya, pengurus TBM banyak mendapatkan ilmu terkait perpustakaan, seperti tertib administrasi, laporan bulanan, data base pengunjung, peminjam dan internet. Ia menambahkan, dengan adanya pelatihan, pengurus TBM semakin mengetahui kebutuhan masyarakat.

“Saat ini juga ada pelatihan advokasi dan mobilisasi sosial. Ini merupakan kegiatan yang sangat bagus untuk meningkatkan kapasitas pengurus TBM dan masyarakat,” ungkapnya.(APP/RIF)

 

 




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus
Designed by: www.BantenWebsiteMurah.com Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net