Senin, 01 Juli 2013 - 14:31:23 WIB



ilustrasi

TANGERANG, BP - Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di 147 desa di 28 kelurahan beberapa diantaranya amburadul, Minggu (30/6). Pilkades di dua desa yakni di Kampung Melayu Timur dan Pangkalan Kecamatan Teluknaga terpaksa ditunda karena ricuh. Bahkan kotak suara di Desa Pondokjaya Kecamatan Sepatan dibakar massa, berikut kantor kecamatan dan desa dirusak.

Informasi yang dihimpun Satelit News (BANTEN POS Grup), keributan saat penghitungan suara di terjadi di lapangan Pondokjaya di Kampung Bendabaru Desa Pondokjaya Kecamatan Sepatan. Masing-masing pendukung saling serang dengan menggunakan batu dan balok yang mengakibatkan beberapa mobil polisi menjadi korban karena terkena lemparan.

Awalnya sekira pukul 10.30 WIB pada saat pencoblosan sedang dilaksanakan ada tiga orang yang diduga sebagai penyusup hendak mencoblos. Namun penyusup itu tertangkap oleh panitia dan orang langsung meninggalkan tempat pemungutan suara. Setelah itu, suasana menjadi lebih tegang. Kemudian pukul 14.20, kembali ditangkap satu orang penyusup yang juga hendak mencoblos, dan orang tersebut dikeroyok oleh massa. penyusup diketahui bernama Hendra (21) warga Kelurahan Sepatan. Selanjutnya penyusup tersebut diamankan ke Polsek Sepatan.

Kemudian, sekira pukul 16.30 WIB, saat penghitungan suara sedang berlangsung, dengan keunggulan calkades Uding, tiba-tiba sekelompok warga mengamuk. Aksi ini mendapat balasan dari warga lainnya sehingga terjadi aksi saling serang dan membuat situasi makin tidak kondusif. Akhirnya kepolisian mengeluarkan tembakan ke udara guna membubarkan massa. Namun, massa yang tidak terima malah balik menyerang ke polisi.

"Akhirnya penghitungan suara dihentikan dan kotak suara diamankan ke kantor kecamatan. Akhirnya warga dapat dibubarkan dan kembali ke rumah masing-masing, tetapi mereka berkumpul kembali mendatangi kantor kecamatan dengan berjalan kaki," kata Kapolsek Sepatan AKP Sunaryo.

Lanjut Sunaryo, sekitar jam 17.45 Wib kotak suara langsung dievakuasi dan diamankan menggunakan Mobil Ranger Patroli Sektor Sepatan, bahkan sempat dihadang massa. Namun kotak suara berhasil diamankan dan dibawa ke kantor Kecamatan Sepatan. Kemudian massa menyerang kantor Desa Pondokjaya, mengeluarkan arsip dan menghancurkan meja serta kursi di lokasi tersebut. Petugas yang berjaga di kantor kecamatan meluncur ke kantor desa.

"Saat petugas bergeser ke kantor desa, beberapa massa mengajak masyarakat menyerang kantor kecamatan. Minimnya petugas yang melakukan penjagaan tak mampu menghalau massa. Jendela kantor kecamatan dijebol dan kotak suara diambil paksa dan dibakar massa yang diduga dari kelompok biru. “Kami kewalahan karena kurang personil yang sudah menyebar, kemudian calon yang menang juga minta perlindungan dari kami khawatir diserang," tandas Kapolsek.

Informasi yang dihimpun, di Kampung Melayu Timur Kecamatan Teluknaga, pelaksanaan Pilkades juga dihentikan karena terjadi kekisruhan. Akibat ada warga yang mendapat lebih dari satu undangan pemilih. Hal ini diketahui salah satu tim calon Kades dan minta ditunda. Kubu dari kedua calon yang bersaing sempat memanas, hingga panitia menghentikan prosesi Pilkades. "Karena tidak kondusif akhirnya ditunda oleh panitia,"kata Faizal warga Teluknaga.

Pelaksanaan Pilkades di Desa Pangkalan Kecamatan Teluknaga yang diikuti oleh lima calon juga ricuh. Awalnya jam 07.00 WIB salahstau calon turun dari panggung dan tidak kembali. Aksi walkout ini juga diikuti oleh tiga orang calon Kades lainnya saat ditengah-tengah prosesi Pilkades. Warga pun kesal dan melempari calon terakhir yang merupakan incumbent  yang masih duduk di panggung, hingga calon tersebut turun. "Panitia juga tidak mau ambil resiko dan akhirnya menghentikan prosesnya. Ditunda lagi," imbuh Faizal.

Di tempat berbeda, pelaksanaan Pilkades di Desa Kedung Kecamatan Gunung Kaler juga sempat memanas. Dua dari tiga calon kepala desa memilih walkout dari arena TPS. Namun meski sempat kisruh prosesi Pilkades tetap berjalan dengan penjagaan ketat puluhan anggota brimob dengan senapan laras panjang dan gas air mata.

Salman, salah seorang warga mengatakan, aksi protes ini terjadi menyusul adanya dugaan kecurangan yang dilakukan salah satu kandidat. Bentuk kecurangannya berupa perampasan kartu panggilan suara dan juga intimidasi untuk memilih salah satu calon. "Iya dua calon kades di desa saya meminta supaya ditunda, karena ada kecurangan dari salah satu calon. Tapi prosesnya tetap berjalan," ujar Salman.

Tidak hanya diwarnai aksi kerusuhan, Pilkades juga sempat terkendala hujan dan angin kencang. Hingga membuat tenda di Desa Cijantra Kecamatan Pagedangan ambruk. Antrian ribuan warga juga memadati area pemilihan hingga warga saling berdesakan. Kemudian di tenda di tempat pencoblosan di Desa Talaga Kecamatan Cikupa ambruk akibat hujan desar dan angin kencang.

"Tenda di Desa Talaga ambruk saat angin kencang hingga membuat panitia kerepotan. Namun pelaksanaan Pilkades tetap berjalan hingga akhir," kata Hidayat pengunjung yang melintasi area pemilihan.

Sementara itu, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang, Aziz Gunawan mengatakan, dua desa yakni Kampung Melayu Timur dan di Kecamatan Teluknaga memang diundur karena suasana yang tidak kondusif. Disamping itu, hujan dan angin kencang membuat beberapa tenda roboh dan proses pencoblosan tertunda sesaat. Namun tetap dilanjutkan lagi.

"Dua desa itu ditunda, jadi nanti panitianya melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan Pilkades ke Badan Pemusyawaratan Desa (BPD), kemudian ke camat dan baru ke Bupati. Setelah itu dirumuskan lagi kapan digelarnya Pilkades. Pilkades juga terkendala badai," tandasnya.

Aziz juga menegaskan jika panitia Pilkades Mekarsari Kecamatan Rajeg berhasil mencegah satu orang pemilih gelap atau bukan warga desa setempat. "Dari saksi ada yang melihat orang tersebut bukan warga desa setempat. Kemudian pemilih gelap tersebut diamankan aparat kepolisian dan dikeluarkan dari area pemilihan. Untuk proses pemilihannya tetap berlanjut," kata Aziz seraya menambahkan saat ini ada 547 calon kepala desa yang bertanding dan 98 diantaranya adalah incumbent. Ditanya soal keributan di Sepatan, pihaknya mengaku masih dalam musyawarah.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, sebagian besar pelaksanaan Pilkades berjalan kondusif, para camat juga sudah melakukan persiapan. "Memang ada beberapa wilayah yang menjadi perhatian khusus terkait masalah ini, seperti Teluknaga dan Gunungkaler. Namun kami berupaya untuk penyelesaian yang sebaik-baiknya. Untuk keamanan juga sudah ada aparat kepolisian di setiap lokasi," kata Zaki.

Zaki menyayangkan adanya kericuhan di sejumlah desa. Menurutnya, Pilkades merupakan proses demokrasi bagi masyarakat di desa bukan unjuk kekuatan masing-masing calon. "Apabila ada indikasi penyimpangan, atau merasa tidak puas dengan hasil Pilkades, silakan maju ke pengadilan. Jangan malah bertindak anarkis sehingga merugikan banyak pihak. Apabila ada pengrusakan terhadap fasilitas pemerintah jelas akan diproses secara hukum," pungkasnya.(ADITYA/ODI/ENK/BNN)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus
Designed by: www.BantenWebsiteMurah.com Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net