banten pos news
pasang-iklan-banten-pos-news

Pernah Dikunjungi Empat Presiden RI

Rabu, 03 Juli 2013 - 12:14:47 WIB



Masjid Agung Tanara peninggalan Maulana Hasanudin

Kemashuran Syeh Nawawi Al-Bantani menyisakan banyak “warisan”. Selain banyak kitab-kitab kuning yang menjadi pedoman dalam beribadah, ternyata ulama besar itu juga meninggalkan Masjid di tanah kelahirannya, tepatnya di Kampung Pesisir, Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara. Sebanyak empat Presiden RI pernah menginjakan kaki disana. Konon masjid itu tertua di Banten, dan dibangun oleh jin. Betulkah?

TUSNEDI Serang

BANYAK orang, termasuk penduduk Banten, tak tahu bila ada masjid tua dan bersejarah di bagian Timur Laut Provinsi Banten. Umumnya, orang hanya menganggap bahwa masjid tersebut adalah peninggalan Syekh Nawawi, karena lokasinya bersampingan dengan rumah kelahirannya. Tokoh sufi itu hidup di Tanara saat wilayah Banten dijajah kolonial Belanda, antara tahun 1813 hingga 1897.

Masjid ini merupakan bangunan peninggalan Raja Banten pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanudin, yang memerintah Kesultanan Banten tahun 1552 hingga 1570. Masjid ini seakan luput dari perhatian ahli sejarah. Meski tak ada keterangan dalam bentuk tulisan maupun prasasti yang menyebutkan bahwa masjid ini didirikan Sultan Maulana Hasanudin.

Masyarakat sekitar Tanara sendiri malah mengait-kaitkan bangunan ibadah ini dengan dunia supranatural. Sehingga berkembang dugaan bahwa masjid ini dibangun oleh jin. Tanpa arsitek, maupun  perencanaan layaknya sebuah bangunan.

Dugaan yang sudah mengental pada kepercayaan masyarakat Tanara dan sekitarnya ini kemudian terbantahkan, setelah BANTEN POS bertemu dengan Ustad Syibromalisi, Wakil Ketua Dewan Masjid Agung Tanara. Dijumpai usai ibadah Salat Dzuhur, kemarin, secara tegas pria paruh baya itu menyatakan jika Masjid Agung Tanara didirikan oleh Sultan Maulana Hasanudin. Bukan oleh jin seperti asumsi yang selama ini berkembang di masyarakat. Ia juga bisa membuktikan bahwa masjid yang terletak di Tanara, Serang, Banten ini termasuk tua dan bersejarah.

Torehan arsitektur dan aksesoris yang terdapat di masjid cukup mirip dengan Masjid Agung Banten. Kemungkinan, kata Syibromalisi, sang raja memerintahkan seorang arsitek dari China untuk membangun masjid ini. Sebab, Masjid Agung Banten juga tak luput dari peran jasa seorang arsitek dari China yang beragama Islam.

Bahkan, menurut Syibromalisi, masjid ini tergolong lebih dulu dibangun daripada Masjid Agung Banten yang terletak di Banten Lama. “Sebab, Masjid Banten didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanudin dari pernikahannya dengan Nyi Ayu Kirana. Dia memimpin kerajaan Banten usai sepeninggalan ayahnya,” kata Syibro.

Namun begitu, ia mengakui bahwa tak ada yang bisa memastikan tahun berapa tepatnya Masjid Agung Tanara dibangun. Tidak ada petunjuk sejarah yang menyebutkan. Yang pasti, masjid ini didirikan semasa Sultan Maulana Hasanudin memimpin pemerintahan di Banten. “Kalau ditilik dari data sejarah, Hasanudin menjadi Raja Banten tahun 1552 hingga 1570. Mungkin, antara jeda waktu itulah masjid ini dibangun,” ujar Syibro lagi.

Dari keterangan Syibro, di sekitar masjid terdapat makam putra Hasanudin, yaitu Pangeran Sunyararas, hasil pernikahannya dengan putri dari Demak. Selain Pangeran Sunyararas, dari pernikahan ini pula Hasanudin dikaruniai beberapa anak, yaitu Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, dan Ratu Kamudarage. Jadi, adalah logis jika masjid ini didirikan Sultan Maulana Hasanudin, karena letak makam Pangeran Sunyararas tak jauh dari masjid, yaitu hanya sekitar 300 meter.

Yang mengejutkan, Masjid itu ternyata dikelola dari hasil sawah garapan yang berasal dari wakaf Sultan Hasanudin, Raja pertama Banten. Awalnya wakaf itu hanya seluas 1 hektar. “Itu dari cerita para leluhur, bahwa pemerintah Banten mewakafkan tanah dan sawah untuk keperluan masjid,” urainya.

Tapi kini, Masjid itu telah memiliki wakaf seluaas 12 hektar, setelah mendapatkan tambahan wakaf dari warga. Hasil dari pengelolaannya sawah itu dalam setahun bisa mencapai Rp50 juta.

Syibromalisi memaklumi bila masjid tua ini luput dari perhatian publik. Sebab, masjid ini tidak dijadikan objek penelitian para ahli sejarah. Bahkan, di beberapa buku sejarah di Banten tidak mencantumkan masjid ini sebagai objek peninggalan kerajaan Islam. Kendati begitu, ia berharap bahwa keberadaan masjid ini dapat menambah khazanah Islam di bidang ilmu sejarah.

Tepat di depan masjid terdapat rumah kelahiran Syekh Nawawi, namanya ‘Maulid Nawawi’. Bangunannya sederhana. Biasanya digunakan untuk tempat mengaji dan berzikir. Setiap tahun, baik di tempat ini maupun di masjid, diadakan peringatan Haul Syekh Nawawi. Jika khaul digelar, ribuan umat Islam datang dari berbagai penjuru tanah air.

“Pendek kata, di masjid ini rutin diadakan acara bertaraf nasional, dan mungkin tergolong internasional, karena dihadiri tokoh dan ulama tingkat lokal, nasional dan internasional,” katanya.

Khaul biasanya diperingati setiap malam Jum’at dan malam Sabtu di akhir bulan Syawwal. Peringatan Haul bertujuan untuk memperingati jasa Syekh Nawawi sebagai ulama yang berkontribusi besar terhadap perkembangan Islam. Dia meninggal tahun 1897 di Tanah Suci dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la, Makkah.

Meski makamnya tidak berada di Tanara, peringatan Khaul tetap diadakan anak keturunan dan para pengagumnya. Di samping itu, peringatan Khaul juga dimaksudkan untuk merangsang generasi muda untuk meneladani keilmuannya. Presiden Indonesia dari berbagai periode pernah hadir di acara Khaul-an tersebut. Antara lain, Presiden Soeharto, Abdurachman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, sebelum tahun 2000, para Duta Besar negara Timur Tengah juga kerap menyempatkan diri hadir di acara tersebut.

Di masjid ini rutin diadakan pengajian setiap malam Jum’at. “Biasanya saya yang mengisi (pengajian,red). Materi yang diajarkan diambil dari kitab fiqih dan hadits. Pesertanya masyarakat sekitar masjid,” pungkas Syibromalisi, mengakhiri percakapan. (*)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus
poling banten pos news
Vote!