banten pos news
pasang-iklan-banten-pos-news

7 Pelaku Kerusuhan Ditangkap

Rabu, 03 Juli 2013 - 12:23:49 WIB



TIGARAKSA,BP - Jajaran Resmob Polres Kota Tangerang mengamankan 7 pelaku pengrusakan kantor Desa Pondok Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Selasa (2/7). Mereka ditetapkan sebagai tersangka, diduga kuat sebagai provokator utama saat aksi penyerangan berlangsung.

“Betul sudah diamankan sekitar 7 orang oleh Polres terkait pengrusakan kantor Desa Pondok Jaya dan Kantor Kecamatan Sepatan. Karena kasusnya berkaitan dengan kerusuhan massa jadi ditangani disana (Polres,red). Sementara kasus kerusuhan di Desa Gempol Sari masih dalam penyelidikan,”ujar AKP Sunaryo, Kapolsek Sepatan kepada Satelit News (Grup BANTEN POS), kemarin.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Siswo Yuwono menegaskan, sebanyak 7 orang yang sudah diamankan dijadikan tersangka atas kasus pengrusakan kantor desa dan kecamatan tersebut. “Mereka diduga sebagai penggerak masa, serta pelaku pengrusakan Kantor Desa Pondok Jaya, serta pembakaran kartu suara di Kecamatan Sepatan, pada hari Minggu (30/6) malam lalu,” tegas Siswo.

Menurut Siswo, ada kemungkinan bertambahnya jumlah tersangka. Lantaran hingga kini pihaknya sedang melakukan pengembangan dan memburu pelaku lainnya. “Semua identitas yang berkaitan dengan kerusuhan sudah kami kantongi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa terungkap,”kata Siswo.

Pada bagian lain, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang, Aziz Gunawan mengatakan, 4 desa yang pelaksanaan Pilkadesnya tertunda gara-gara rusuh akan digelar serentak pada Minggu (7/7) mendatang. “Disepakati pelaksanaan Pilkades di empat desa itu serentak di hari Minggu,” ujar Azis, seraya menyebut keempat desa tersebut. Antara lain Desa Pangkalan dan Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga, serta Desa Pondok Jaya, Kecamatan Sepatan dan Desa Tapos Kecamatan Tigaraksa.

Sementara dari 147 desa yang menggelar Pilkades serentak Minggu (30/6) lalu, belum semua hasilnya dialporkan. Sejauh ini, lanjut Azis, baru ada 103 desa yang melaporkan namun datanya belum sepenuhnya. “Kami masih menunggu. Diantaranya masih melakukan perhitungan suara di Desa Tegal Angus dan Desa Muara Kecamatan, Teluknaga,” imbuhnya.

 Dilain pihak, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menyatakan, guna mengantisipasi kekisruhan dalam Pilkades ke depannya Peraturan Bupati (Perbup) dan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pilkades akan direvisi. “Perda dan Perbup tentang Pilkades akan direvisi nantinya, yakni dengan lebih diperinci dan ditambah beberapa pasal. Harapannya agar Pilkades bisa berjalan lebih tertib. Kalau panitia tidak mengacu pada Perbup dan Perda jelas tidak akan tertib,”terangnya.

Zaki menegaskan, dalam Perbup nantinya akan diselaraskan seluruhnya tata pelaksanaan Pilkades. Serta pasal yang masih belum jelas akan diperjelas dengan detil. “Direncanakan juga akan ditambah pasal tidak boleh membawa atribut calon saat proses pemunguta suara. Serta tidak boleh mendirikan posko pemenangan di sekitar Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ini untuk menghindari keributan lagi,”paparnya.

Disamping itu, untuk pelaksanaan Pilkades kedepannya Zaki juga berharap desa lain dapat meniru pencoblosan Pilkades di Desa Sodong Kecamatan Tigaraksa dengan menggunakan barcode. “Bayangkan di Sodong ada sekitar 7000 pemilih, dengan barcode semua berjalan lancar. Karena barcode mampu menangkal pemilih ganda atau pemilih dari luar desa. Ini akan menjadi pilot project pemerintah ke depannya,” tandas Zaki.

Sedangkan, dari hasil Pilkades serentak, Kades terpilih belum seluruhnya bisa tidur nyenyak. Pasalnya, terdapat sejumlah warga yang melayangkan gugatan. Misalnya di Desa Kampung Kelor, Kecamatan Sepatan Timur. Di daerah ini ratusan warga mendesak dilakukannya penghitungan suara ulang. “Saya dan calon Kades lainnya (Rasman, red) akan mengajukan gugatan ke Kejaksaan dan Pengadilan terkait hasil putusan penghitungan suara yang memenangkan calon dari bendera biru bernama Minata,” kata Syahril, salah satu calon kades Satelit News.

Syahril menambahkan, pihaknya bersama Rasman akan menyiapkan berkas dan kuasa hukum untuk mendampingi langkahnya tersebut. Ia mengaku, awalnya pihaknya meminta penghitungan suara ulang, namun hal itu tidak mendapat tanggapan. “Akhirnya kami putuskan untuk menggugat, keputusan kami ini juga sudah diketahui perwakilan dari Minata saat musyawarah di Kantor Kecamatan Sepatan Timur,”imbuhnya.

Lanjut Syahril berdasarkan perhitungan suara dari total suara pemilih sebanyak 5897, ia mendapatkan 2546 suara dan Rasman mendapatkan suara 518. Sedangkan pihak Minata mendapatkan suara sekitar 2700 lebih. Dalam penghitungan suara kemarin ia melihat banyak kejanggalan dan dan menduga ada indikasi kecurangan. Seperti tidak klopnya surat undnagan yang masuk dengan surat suara yang dicoblos, surat suara doble warna dan ada surat suara yang kosong.

“Selain itu kami juga mendapati ada warga dari Desa Kedaung Barat malah ikut mencoblos di desa kami, jelas-jelas dia sudah bukan lagi warga desa kami. Kemudian banyaknya surat suara yang cacat menurut kami, padahal anggaran Pilkadesnya sebesar 216 juta kok buat cetak suara saja masih banyak yang salah, ini ada apa,” terangnya.(ADITYA/ADH/BNN)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus