Rabu, 28 Agustus 2013 - 12:22:50 WIB



ilustrasi

PANDEGLANG, BP - Diduga karena masalah sepele, dua oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkab Pandeglang terlibat adu jotos. Aksi duel dua abdi negara terjadi antara Sekwan DPRD Pandeglang Ferri Hasanudin dengan Staf Bagian Persidangan DPRD Pandeglang, Tata Surya Nusantara, di ruang Sekwan, Selasa (27/8) sekitar pukul 08.30 WIB.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, keteganggan antara keduanya terjadi saat Tata Surya menyerahkan berkas lamaran kerja untuk Tenaga Kerja Sukarela (TKS) kepada Feri Hasanadin di ruang kerja Sekwan. Sementara, di dalam ruang kerja Ferri Hasanudin tengah berbincang dengan Kepala Bagian (Kabag) Persidangan Iwan Purwadi  untuk membahas rapat paripurna besok (hari ini).

Sambil menyerahkan berkas lamaran TKS, Tata Surya langsung marah-marah dan memaksa anaknya dijadikan TKS di Sekretariat DPRD. Namun, permintaannya langsung ditolak oleh atasannya, Iwan Purwandi. Penolakan itu karena adanya kebijakan Kemenpan RB dan Bupati Pandeglang yang melarang penerimaan TKS baru.

"Udah nggak boleh ada TKS baru lagi, apalagi kamu (Tata Surya, red) sering bolos dan saya punya bukti absensinya. Kamu harus sopan ke atasan," kata Iwan.

Pernyataan Iwan membuat emosi Tata Surya memuncak. Seraya membuka jaket dan duduk di kursi dekat meja Ferri Hasanudin, Tata Surya langsung mengajak duel atasannya. Karena diduga sudah tersulut emosi dan terancam akan dipukul, lantas Ferri Hasanudin memukul terlebih dahulu, bogemnya mendarat di wajah Tata Surya. Akibat aksi pemukulan itu Tata Surya mengalami luka di bagian hidung, dan terpaksa dibawa ke RSU Berkah Pandeglang untuk mendapatkan perawatan intensif.

Sementara, dua jam setelah insiden tersebut Sekwan Ferri Hasanudin dan saksi Kabag Persidangan Iwan Purwadi menggelar konfrensi pers di ruangannya. Ferri menjelaskan, kejadian bermula ketika Tata memaksa anaknya dijadikan TKS. Namun, setelah diberitahu Iwan Purwadi, yang bersangkutan tidak terima dan menantang duel dirinya.

"Pak Tata tiba-tiba masuk sambil mengucapkan salam dengan nada tinggi, sambil menyodorkan map lamaran kerja di memaksa mau memasukan TKS. Lalu Pak Iwan menjelaskan, kalau itu sudah tidak boleh," ujar Ferri sambil memperlihatkan berkas lamaran tersebut.

Menurutnya, siapa pun orang yang merasa terancam dan dipojokan maka wajar melakukan perlawanan. Saat terpojok, kata Ferri, dirinya lantas memukul bagian wajah anak buahnya. "Dari pada dia (Tata, red) nyerang duluan saya pukul duluan. Saya lihat gerakan dia itu mau menyerang saya, dan akhirnya saya pukul sekali di bagian wajah," terangnya.

Penyataan Sekwan Ferri diamini Kabag Persidangan Iwan Purwadi yang menjadi saksi ketegangan keduanya. Iwan menjelaskan, Tata datang dengan nada dan sikap yang tidak sopan layaknya bawahan ke atasan. Sambil memaksa menjadikan anaknya TKS, Tata marah-marah dan menantang duel dengan Sekwan.

"Saya sudah bilang, tidak boleh ada penerimaan TKS baru tapi dia maksa. Malah saya lihat dia memancing-mancing Pak Ferri untuk berduel," tuturnya.

Tidak hanya itu, dirinya melihat jika Tata membawa pisau yang diselipkan di bagian belakang celana. Namun, dirinya memasukan kembali pisau yang diduga akan digunakan Tata. "Saya melihat dia membawa pisau dan saya masukan lagi ke bagian celananya. Setelah kejadian saya minta dia membersihkan mukanya," tukasnya.

Ditemui di ruang Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSU Berkah Pandeglang, Tata Surya mengatakan, dirinya dipukul saat duduk di ruang Sekwan. Tata menjelaskan, dirinya menghadap hendak memasukan kerjaan TKS. Menurutnya jika memang pengajuan kerjaan ditolak maka jangan ditonjok. "Saya lagi duduk ditonjok Sekwan. Kalau pengajuan kerja ditolak ya tolak, jangan ditonjok," ujarnya.

Sementara, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Pandeglang AKP Suryo Wibowo membenarkan adanya tindak pemukulan oleh Sekwan Ferri. Sementara, korban sempat ke Reskrim untuk membuat laporan, namun ditunda lantaran korban pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.

"Betul adanya pemukulan yang dilakukan oleh Sekwan Ferri Hasanudin. Korban sempat mau melapor, tapi tertunda karena pingsan dan kita masih menunggu laporan resminya," ujar Kasat Reskrim.(ARI/ENK)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus
Designed by: www.BantenWebsiteMurah.com Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net