Jumat, 22 Maret 2013 - 10:58:25 WIB



Pengacara Minta Terdakwa Dihukum Ringan,


SERANG, BP –Sidang lanjutan kasus pengeroyokan yang menewaskan Tobri (23), warga Cikepuh, Kelurahan Unyur, Kota Serang, dengan agenda pembelaan (pledooi) dari terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (21/3) berakhir ricuh. Hal itu terjadi saat penasihat hukum terdakwa meminta agar kliennya dihukum ringan.

Kericuhan terjadi ketika kuasa hukum 10 terdakwa, Mufti Rahman membacakan pledooinya, yang berisi permintaan agar majelis hakim memberikan hukuman seringan-ringannya kepada 10 terdakwa. Mendengar pembelaan tersebut, pengunjung sidang yang didominasi keluarga dan kerabat korban langsung berteriak dan mengumpat kuasa hukum terdakwa karena dinilai membela yang salah.

Persidangan yang dipimpin hakim M Lutfi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sutiarso kian panas, saat beberapa pengunjung mencoba menyerang para terdakwa. Aksi tersebut memicu pengunjung lain ikut merangsek ke depan meja hakim dan jaksa untuk menyerang para terdakwa. Kericuhan pecah di ruang sidang, suasana ruang sidang tak terkendali. Para pengunjung sidang melemparkan benda-benda yang ada di sekitar ruang sidang, seperti sandal, sepatu, air mineral, bahkan sempat ada yang hendak melemparkan kursi. Beruntung aksi ini berhasil diamankan polisi, dan pengacara berhasil melarikan diri dari kejaran para pengunjung sidang dan 10 terdakwa diamankan pihak kepolisian. Beberapa saat kemudian kondisi tersebut akhirnya berhasil ditertibkan setelah polisi meminta keluar para pengunjung sidang.

Tidak hanya berlangsung di dalam ruang sidang, warga yang kesal lalu turun dan berteriak-teriak di depan pintu PN Serang. Aparat keamanan terus berjaga-jaga di depan pintu gerbang untuk menghindari aksi anarkis warga.

Dalam nota pembelaannya, kuasa hukum terdakwa, Mufti Rahman meminta kepada majelis hakim agar menghukum seringan mungkin kepada para terdakwa.

“Pembelaan tersebut dikeluarkan karena terdakwa masih berusia muda dan masih bisa direhabilitasi serta belum pernah terkait kasus hukum sebelumnya, bahkan mereka telah menyesali perbuatannya,” ujar Mufti.

Menyikapi pledoi tersebut, JPU kepada majelis hakim juga menyatakan pihaknya secara lisan tetap pada tuntutannya. Sehingga akhirnya hakim memutuskan sidang ditunda hingga pekan depan dengan agenda putusan.

Sementara itu, orangtua korban, Karmana mengatakan pihaknya meminta hakim memberikan hukuman seberat-beratnya, sebab anaknya meninggal oleh para terdakwa tersebut.

"Saya minta, hakim menghukum seberat-beratnya. Anak saya sudah meninggal. Jangan seperti pengacara, yang meminta terdakwa dihukum seringan-ringannya, " katanya.

Senada diungkapkan kuasa hukum keluarga Tobri, Nasir yang menginginkan para terdakwa dihukum seberat-beratnya sesuai pasal yang telah ditetapkan.

"Selain itu saya minta ketegasan hakim dalam mengadili. Kami juga berharap agar kedua kampung yang terlibat kasus tetap berdamai," ucap Nasir.

Pada sidang sebelumnya, ke-10 terdakwa tersebut oleh JPU dituntut dengan tuntutan maksimal sesuai pasal 170 KUHP, yakni 12 tahun penjara.

Kasus tragedi Cikepuh bermula saat terjadi pertandingan sepak bola persahabatan antara Kesebelasan Kampung Unyur dengan Kesebelasan Kampung Cikepuh, beberapa waktu lalu. Kemenangan 4-0 Kesebelasan Kampung Cikepuh rupanya tidak diterima secara sportif oleh Kesebelasan Kampung Unyur. Ditambah, selama jalannya pertandingan sempat terjadi kericuhan antar kedua kesebelasan.

Usai pertandingan, terjadi pengeroyokan terhadap Tobri oleh sejumlah pemain, supporter dan warga. Akibat kejadian tersebut, Tobri akhirnya tewas di tempat. Polisi yang mendapat laporan dari warga Kampung Cikepuh, kemudian menetapkan 12 tersangka dalam kasus tersebut yakni SB, JA, JUH, OK, HH, PM, AF, SAH, HAR, ROF, AD, dan RK. (DWA/RIF)





BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus