Jumat, 22 Maret 2013 - 12:02:35 WIB



Dinkes Halang-halangi Kerja Wartawan,

SERANG, BP – Persemian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten  yang berlokasi di jalan Syekh Nawawi Al-Bantani, Kota Serang dipastikan mundur dari jadwal yang sebelumnya. Bila sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten menjadwalkan peresmian pada 8 April mendatang, akhirnya diundur hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Kepala Dinkes Banten, Djadja Buddy Suhardja mengatakan, kemungkinan peremsian RSUD tidak sesuai denegan yang telah dijadwalkan. Penyebabnya adalah pembahasan dua Raperda terkait dengan operasional RSUD itu belum tuntas dibahas di DPRD Banten.

“Kalau dilihat dari proses pembahasan dua Raperda terkait dengan RSUD Banten oleh DPRD, kayaknya memang mundur peresmian RSUD Banten. Tapi kami harap mundurnya tidak terlalu jauh,” kata Djadja usai menghadiri Rapat  paripurna Jawaban Gubernur Banten atas pemandangan umum fraksi-fraksi terhadap Nota Pengantar 2 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) usulan Gubernur Banten di Gedung DPRD Provinsi Banten, Kamis (21/3). Dua raperda itu adalah Raperda tentang pembentukan rumah sakit umum daerah Provinsi Banten dan Retribusi pelayanan kesehatan RSUD Provinsi Banten

Dia menjelaskan, sesuai dengan rencana awal, peresmian RSUD Banten akan dilakukan pada tanggal 8 April 2013 oleh Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Namun melihat kondisi pembahasan raperda akan mundur satu bulan. “Harapan kami Bulan Mei RSUD Banten dioperasikan. Dan sekarang pansus baru terbentuk,” imbuhnya.

Sebelumnya,  dalam jawaban pemandangan frkasi-fraksi DPRD Banten, Wakil Gubernur (Wagub) Banten, Rano Karno yang hadir dan membacakan pandangan gubernur atas jawaban fraksi-fraksi mengatakan, bahwa hasil identifikasi Pemprov Banten pada RSUD yang ada, menunjukkan adanya pasien yang tidak mampu yang tidak tertampung di RSUD. Selain itu, angka kematian ibu dan bayi, serta tingginya rujukan pasien ke luar provinsi masih tinggi. Sehingga apabila RSUD Banten beroperasi, maka kebutuhan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan bisa semakin dekat, mudah dan terjangkau.

“Berdasarkan pasal 10 Peraturan Menteri kesehatan Nomor 340 tahun 2010 tentang klasifikasi rumah sakit, rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan spesialis minimal 18 pelayanan spesialis dan sub spesialis. Jumlah tempat tidur, minimal 200. Guna memenuhi hal tersebut ,di RSUD Banten telah disiapkan 184  tempat tidur dan pada tahun 2014 akan ditambah sebanyak 216 tempat tidur, ruang perawatan dan ruang penunjang lainya,” kata Rano

Adapun untuk pelayanan dokter spesialis dan subspesialis,sebanyak 25 spesialis, telah menyatakan kesiapanya. Dengan demikian, maka RSUD Banten, berdasarkan standar klasifikasi kelas rumah sakit, diharapkan dapat memenuhi standar kelas B. ”Kedepan direncanakan menjadi rumah sakit kelas B pendidikan sesuai harapan yang disampaikan oleh fraksi partai persatuan pembangunan,” ujarnya.

Sementara, meski operasioanl tengah dibahas para wakil rakyat di DPRD Banten,  pihak Dinkes sendiri masih enggan transparan dalam pembangunan RSUD itu. Kemarin, fotografer BANTEN POS, Ronald Siagian hendak melakukan tugas peliputan menggambil foto ke RSUD Banten, petugas kemanan di rumah sakit tidak memperbolehkan masuk bahkan melakukan peliputan.

“Tidak boleh masuk Pak, kalau mau masuk harus seijin dan punya surat tugas dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi,” ungkap satpam yang mengenakan baju coklat bersama anggota keamanan lainnya.

Peristiwa ini sempat memicu adu mulut antara wartawan dengan petugas kemanan yang cukup lama di depan pos keamanan rumah sakit. Petugas tersebut tetap tidak memperbolehkan masuk untuk melakukan peliputan sementara wartawan sudah menunjukkan identitas diri (ID) yang di kalungkan di lehernya.

“Saya ini baru dari sidang paripurna, disana kumpul wakil rakyat yang membahas tentang rumah sakit ini, kenapa saya cuma mengambil gambar saja, sulit sekali dan harus konfirmasi dengan pimpinan toh pembangunan rumah sakit ini uang rakyat,“ ungkap Ronald dengan kesal.

Berdasarkan data yang dimiliki BANTEN POS, pada tahun lalu dianggarkan ratusan miliar rupiah untuk menunjang pembangunan RS Rujukan. Anggaran paling besar diperuntukkan untuk penyediaan alat kedokteran rumah sakit yang pagu anggarannya mencapai Rp100,699 miliar. Sedangkan untuk pembangunan lanjutan rumah sakit tersebut dianggarkan Rp11,3 miliar.(RUS/NAL/ENK)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus