Senin, 11 November 2013 - 10:46:36 WIB



CILEGON, BP - Harapan buruh di Kota Cilegon terkait UMK 2014 sebesar Rp3,7 juta rasanya sulit terwujud. Pasalnya, berdasarkan hasil survei Dewan Pengupahan Kota (DPK) Cilegon, komponen hidup layak (KHL) buruh hanya Rp1,6 juta lebih. Itu artinya, masih bisa dicover oleh UMK 2014 sebesar Rp2,2 juta.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon Erwin Harahap mengatakan, DPK Cilegon telah menetapkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) para pekerja di Kota Cilegon sebesar Rp1.689.000. Hasil survei KHL tersebut akan menjadi acuan penentuan Upah Minimum Kota (UMK) 2014, yang akan diplenokan pada 20 November mendatang.

"Angka KHL itu didapat dari hasil survei yang dilakukan DPK selama beberapa bulan terakhir. Acuannya berdasarkan penghitungan 60 komponen hidup layak (KHL) sesuai ketentuan Inpres No.9/2013 tentang Kebijakan Penetapan Upah Minimum (UMP)," kata Erwin, Minggu (10/11).
Kendati demikian Erwin mengungkapkan, KHL sebesar Rp1,6 juta lebih tersebut tidak termasuk pada rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tarif tol, kenaikan tarif kendaraan umum, dan lain-lain.

"Kalau hanya murni dari KHL, UMK 2014 berakhir di angka Rp1,6 juta. Namun setelah ditambah dengan lain-lainnya mencapai Rp2 juta lebih," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Erwin, pihaknya meminta buruh untuk tidak merespon secara berlebihan terkait hasil survei KHL, karena survei KHL juga melibatkan perwakilan buruh.

"UMK 2014 DKI Jakarta hanya naik Rp 200 ribu menjadi Rp2,4 juta. Untuk Cilegon UMK 2013 masih cukup memenuhi kebutuhan para pekerja," jelasnya.

Terpisah, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Cilegon, Andi Seto mengatakan, penetapan UMK semestinya mengacu pada pencapaian angka KHL. Hal tersebut berdasarkan aturan penetapan UMK dan Inpres No.9/2013 tentang Kebijakan Penetapan UMK.

"Merujuk aturan penetapan UMK dan Inpres terbaru tentang mekanisme penetapan UMK 2014, jelas di situ ditegaskan bahwa UMK harus mengacu pada pencapaian angka KHL. Hasil survei KHL terakhir masih sekira Rp1,6 juta, dengan UMK sekarang yang sebesar Rp2,2 juta itu, Cilegon sudah sangat jauh di atas angka KHL," jelasnya.

Andi berharap, UMK 2014 sesuai dengan survei KHL dan rekomendasi dari DPK Cilegon, karena prosedur yang dilakukan sudah sesuai aturan.

"Dengan UMK tahun lalu saja pelaku usaha sudah keberatan, apalagi kalau tahun depan dinaikan kembali. Kalau pun terpaksa dinaikkan, jangan UMK-nya. Tapi di masing-masing perusahaan silakan dirundingkan saja dengan manajemen, disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapannya perusahaan, kata Andi.

Juru bicara aliansi buru se-Cilegon Rudi Syahrudin tetap mendesak agar UMK tahun depan naik 50 persen sebesar Rp3 juta lebih. "Yang pasti kami tetap menuntut UMK di atas Rp 3 juta, karena survei KHL hanya 60 item, sementara kenyataannya 84 item," tegasnya.
Rudy menambahkan, jika UMK 2014 tidak mengalami kenaikan sesuai tuntutan buruh, maka aliansi buruh Cilegon akan kembali turun ke jalan melakukan unjukrasa besar-besaran. "Harga mati UMK 2014 di atas Rp3 juta, jika tidak, kami terpaksa akan kembali melakukan unjukrasa dengan massa yang jauh lebih besar dari kemarin," tegasnya. (CR2/ZAL)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus