Selasa, 26 Maret 2013 - 12:18:52 WIB



Di tengah tingginya biaya dan kebutuhan hidup saat ini, menjalani kehidupan tentunya bukan hal yang mudah. Terlebih jika dengan kondisi tubuh yang kurang sempurna. Namun, Jaelani, warga Desa Peusar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang yang cacat kakinya tidak patah semangat. Tekadnya yang kuat membawa dirinya menjadi pengusaha rumahan.

Fajar Aditya
PANONGAN

Wajahnya terlihat serius memotong bahan untuk pembuatan sendal saat Satelit News (BANTEN POS Grup) bertandang ke bengkel pembuatan sendal yang dikelolanya. Semangat kerja dan berkarya tampak jelas terlihat dari pria kelahiran 9 April 1982 ini, meski ia tidak bisa berdiri dan berjalan sejak lahir, karena menderita cacat kaki.

“Saya belajar hidup dari alam. Saya mensyukuri kekurangan yang saya miliki dan menjadikannya sebagai kelebihan,” kata Jaelani sambil merapihkan posisi duduknya.

Berbekal keterampilan menjahit yang diperolehnya dari sang kakak, Jaelani mencoba mengimplementasikannya untuk bisa menjalani hidup secara mandiri. Seiring dengan apa yang menjadi prinsip dalam hidupnya, yakni tidak mau bergantung dan berpangku tangan. Jaelani memilih menjalani hidup sebagai perajin sendal.

“Saya tidak pernah sekolah memang, namun dengan bekal keahlian saya yang bisa menjahit, saya mencoba mencari peruntungan menjadi perajin sendal,” ungkapnya.   

Jaelani mengaku menggeluti berprofesi sebagai perajin sendal sejak tahun 2006 silam. Awalnya, usaha tersebut dirintis bersama seorang temannya. “Saya yang menjahit dan teman saya yang merangkai sendalnya. Semua itu saya telateni sampai sekarang. Habis mau usaha apalagi dengan kondisi saya yang cacat ini. Alhamdulillah, tuhan masih memberikan banyak kelebihan kepada saya,” ungkapnya.

Sampai akhirnya, laki-laki yang hanya menapakan tangan untuk membawa beban tubuhnya jika berjalan ini, akhirnya mampu mengelola bengkel sendal. Waktu terus berjalan, bengkelnya pun terus berkembang. Kini Ia pun mampu mempekerjakan lebih dari 15 orang setiap harinya dengan menghasilkan rata-rata 1000 pasang sendal setiap minggu atau 4 ribu lebih pasang sendal dalam per bulan.

Jaelani mengaku persaingan penjualan sendal memang sangat berat di pasaran, hingga hal inipun menjadi kendala baginya. Sejauh ini sistem pemasaran yang dilakukannya masih secara kekeluargaan saja. “Rata-rata yang mengambil sandal di saya umumnya untuk dijual kembali. Terkadang mereka mengambil tidak langsung membayar tunai. Bayarnya nunggu sandal yang mereka jual laku dulu. Tapi ya Alhamdulillah saja, saya syukuri. Karena rejeki sudah ada yang mengatur. Buktinya sampai sekarang saya masih bisa terus menjalankan usaha ini,” jelasnya sembari tersenyum.

Saat ini, sandal bikinannya sudah menembus beberapa kota di Pulau Jawa, Ambon, Sulawesi dan Sumatra. Semua itu juga melalui jaringan dari teman ke temanya.

“Tangerang ini kan banyak sekali masyarakat yang berasal dari berbagai daerah. Berbekal perkawanan tadi, sandal bikinan saya bisa sampai terjual di luar daerah,” pungkasnya bangga.

Apa yang dilakukan Jaelani tentu bukan hal yang mudah. Hanya jiwa-jiwa yang kuat dan memilik semangat tinggi yang mampu melakukannya. Jaelani membuktikan bahwa kesuksesan itu dimulai dari diri sendiri. Dan semangat adalah salah satu kuncinya.(*)




BACA JUGA:



KOMENTAR ANDA :
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi bantenposnews.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Bantenposnews.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

comments powered by Disqus
Designed by: www.BantenWebsiteMurah.com Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net